Tet Apam di Gampong Pukat

Khanduri Tet Apam ini memberi pelajaran bagi generasi muda dan generasi yang akan datang untuk mencintai kuliner-kuliner khas Aceh ini, kata Novita.

Tet Apam di Gampong Pukat
Puluhan Ibu-ibu di Gampong Pukat Kec. Pidie, kabupaten Pidie memasakh Apam, dalah kegiatan Khanduri Tet Apam di Gampong Tersebut.

Tet Apam di Gampong Pukat

Khanduri Tet Apam ini memberi pelajaran bagi generasi muda dan generasi yang akan datang untuk mencintai kuliner-kuliner khas Aceh ini, kata Novita.

Pidie – Khanduri Apam-Serabi merupakan tradisi masyarakat Aceh yang secara turun temurun terus di wariskan kepada generasi muda. Disetiap bulan Rakjab dalam kalender Hijriah, sebagian besar masarakat Aceh akan menyambut bulan tarsebut dengan melakukan Khanduri Tet Apam. Tak terkecuali masyakat Gampong Pukat Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie.

“Kami melakukan ini untuk mencari berkah dari bulan Rakjab yang baik ini. Setiap yang kita lakukan di bulan Rakjab ini banyak sekali pahalanya, jadi kami dalam Khanduri Tet Apam ini juga sekaligus menjalin silaturahmi dengan warga Gampong. Dan sudah kami lakukan secara turun temurun”, kata Nek Nursidah 73 tahun warga Gampong Pukat.

Selain untuk mencari berkah, menurut Nek Nursidah Khanduri Tet Apam tersebut juga berfungsi untuk berdoa, agar masyarakat diberikan keselamatan dari bahaya bencana, panjang umur, sehat badan dan dimudahkan dalam mencari rezeki.

Ditengah terik matahari di Meunasah Gampong Pukat pada Minggu 25 Maret 2018, puluhan ibu-ibu terlihat khusuk memasak adonan Apam yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Tak lama kemudian, dengan bahan bakar daun kelapa yang sudah mengering, dari atas tungku yang terbuat dari batu bata yang disusun sedemikan rupa tersebut, kaum ibu-ibu itu sudah memasak ratusan Apam yang siap dihidangkan.

Sebagaian lainya menyiapkan kuah santan dengan campuran ketela, nangka dan pisang di sebuah dandang besar. Kuah santan manis itu nantinya akan dihidangkan bersama Apam gurih yang ditelah dimasak.

Jika anda mencicipi makanan ini anda akan meraka sensasi yang luar biasa dengan rasanya yang khas dan dicampur dengan kuahnya yang bikin anda ketagihan, pada umumnya orang Aceh sangat menyukai makanan ini khususnya masyarakat Pidie.

Khanduri Tet Apam di Gampong pukat itu pertama kali dilaksanakan secara massal. Biasanya khanduri Tet Apam dilaksanakan secara pribadi dirumah masing-masing, atau mereka membentuk kelompok setingkat dusun di Gampong itu.

Adalah Zainuddin Alba Geuchik Gampong Pukat yang menginisiasi melaksanakan Khanduri Tet Apam secara masal didesanya. Ia ingin tradisi Tet Apam pada bulan Rakjab di kampungnya tidak hilang termakan arus zaman.

“Masyarakat Pidie khususnya setiap bulan Rakjab mengadakan khanduri Tet Apam, ini merupaka tradisi yang di amanahkan nenek moyang kita untuk terus dilestarikan, jadi kami sebagai orang tua di Gampong Pukat ini juga harus mewariskan tradisi ini kepada generasi selanjutnya.” Kata Zainuddin.

Zainuddin mengaku, demi melastarikan adat istiadat dan budaya Aceh dalam Khanduti Tet Apam tersebut pihak Gampong menangung semua biaya yang dikeluarkan.

Bahkan dirinya dan aparatur Gampong Pukat sudah sepakat akan melaksanakan Khanduri Tet Apam tersebut setiap tahunya secara lebih meriah lagi. Ha itu menurutnya juga untuk lebih memperkenalkan kuliner Aceh khususnya Pidie kepada masyarakat yang lebih luas.

Novita (30) warga Gampong Pukat lainya, mengaku kegiatan tersebut sangat berguna untuk generasinya. Pasalnya, menurut Novita banyak anak-anak muda di Gampong Pukat sudah banyak yang tidak paham filosofi dan sejarah Khanduri Tet Apam tersebut.

Ia menambahkan, Khanduri tersebut juga berguna untuk meningkatkan silaturahmi antar masyrakat, membangkitkan budaya masyarakat yang diwariskan nenek moyang.

“Anak-anak sekarang kan sudah tidak terlalu paham lagi bagaimana caranya, apa filosofinya dan bagaimana sejarahnya. Menurut saya ini adalah kuliner khas Aceh yang perlu kita jaga dan lestarikan. Dengan adanya kebersamaan seperti ini memberi pelajaran bagi generasi muda dan yang akan datang bahwa kita harus mencintai kuliner-kuliner khas Aceh ini,” katanya.[]