Tim Gabungan Kembali Tertibkan Tambang Emas Ilegal di Nagan Raya.

Di lokasi sepanjang aliran sungai kawasan penambangan liar juga masih terlihat sejumlah gubuk tua dan jerigen minyak yang digunakan para penambang

Tim Gabungan Kembali Tertibkan Tambang Emas Ilegal di Nagan Raya.
Tim Gabungan membakar gubuk yang digunakan penambang emas ilegal di pegunungan Nagan Raya. (Foto: Rusman)

Tim Gabungan Kembali Tertibkan Tambang Emas Ilegal di Nagan Raya.

Di lokasi sepanjang aliran sungai kawasan penambangan liar juga masih terlihat sejumlah gubuk tua dan jerigen minyak yang digunakan para penambang

Nagan Raya - Usai penertiban dan pemberhentian tambang emas ilegal pada November 2017 lalu, Tim Gabungan yang terdiri dari Jajaran Polres Nagan Raya, TNI, Polisi Militer, Polisi Hutan, Dinas Kehutanan dan Aparat Gampong kembali melakukan patroli penertiban tambang emas di kawasan pegunungan Kecamatan Seunagan Timur dan Kecamatan Beutung Kabupaten Nagan Raya.

Kapolres Nagan Raya, AKBP Giyarto mengatakan, penertiban tersebut dilakukan mengingat penambangan di kawasan hutan lindung secara terbuka dapat menyebabkan kerusakan hutan dan dilarang oleh negara.

“Yang tampa izin atau penambangan terbuka di kawasan hutan lindung itu dilarang. Jadi ini dasar kita untuk melakukan kegiatan ini,” kata AKBP Giyarto saat melepas tim gabungan penertiban tersebut, Selasa 16 Januari 2018.

Menurutnya, Tim yang diturunkan kembali menemukan sejumlah lokasi tambang aktif dan Asbuk atau alat penyaringan galian dan gubuk di sepanjang aliran sungai tempat penambang tinggal selama melakukan penambangan.

Wakapolres Nagan Raya, Kompol Sutan Siregar yang memimpin langsung penertiban kali ini mengatakan, dari lokasi tersebut diperkirakan masih ada penambang yang membandel dan terus melakukan penambangan, mengingat terdapat sejumlah lokasi tambang yang baru ditinggalkan dan sejumlah gubuk dengan berbagai alat masak serta bahan makanan.

Namun, sayangnya dalam penertiban kali ini Tim kembali gagal menemukan alat berat aktif dan penambang meski sudah turun ke lokasi dan melakukan penyisiran sepanjang aliran sungai di kasawan tersebut.

Wakapolres menyebutkan, pihaknya hanya menemukan dua alat berat yang sudah rusak dengan perkiraan sudah lama ditinggalkan oleh penambang dan tidak dapat dioperasikan.

“Dua beko sudah rusak ditinggalkan oleh penambang liar,” jelas Sutan.

Selain itu, kata Wakapolres,  pihaknya juga membakar sejumlah gubuk dan Asbuk sebagai tindakan  agar penambang tidak lagi melakukan kegiatan terlarang tersebut jika tidak memiliki izin yang sah.

“ Sudah kita ambil tindakan. Mengingat lokasi sangat jauh makanya kita lakukan pembakaran, Kita membakar pondoknya, tempat mereka selama ini bertempat selama melakukan penambangan liar,” katanya.

Di lokasi sepanjang aliran sungai kawasan penambangan liar juga masih terlihat sejumlah gubuk tua dan jerigen minyak yang digunakan para penambang.

Tidak hanya itu, sepanjang jalan menuju lokasi kawasan pemukiman warga juga tampak memprihatinkan. Di mana lokasi yang ditinggalkan penambang tersebut dipenuhi lubang bekas galian yang tidak diperbaki, sehingga berpotensi akan menimbulkan bencana baru yang bisa memakan korban, baik manusia maupun ternak warga.

“Mari sama-sama menjaga kelestarian alam kita, kalaupun memang harus melakukan ini, mari upayakan kegiatan yang sah melaui izin atau rekomendasi pemerintah daerah sehingga terhindar dari kerusakan lingkungan," imbau Kompol Sutan Sirega.[]