Trieng

Kita bisa melihat bagaimana orang tidur dengan pulas di lokasi-lokasi bawah rumpun bambu itu.

Trieng
i.pinimg.com

Kita bisa melihat bagaimana orang tidur dengan pulas di lokasi-lokasi bawah rumpun bambu itu.

KONTEKSNYA bisa saja dipilah-pilah. Generasi yang sekarang, tidak semua tahu bagaimana wujud rumpun bambu. Generasi yang kreatif, hanya akan menelusuri lewat mesin pencari yang tersedia begitu rupa. Sebagian bisa berdalih. Generasi yang dimaksud, bisa dibagi dua, mereka yang berada di kampung, dan mereka yang ada di kota. Untuk kampung, juga tidak semua tersebut rumpun bambu ini.

Mohon maaf melihat kota dan kampung tidak terlalu diperumit. Konteks keduanya silakan ditemukan masing-masing. Saya tidak ingin berbicara dalam relasi sosial-budaya yang lebih dalam. Kota dan kampung, hanya dilihat dalam ruang tapak, wilayah, kawasan, teritori, atau apapun namanya.

Kembali ke soal rumpun bambu di kampung. Tidak semua masih memiliki. Penyebabnya bermacam-macam. Ada kampung yang memang orang di dalamnya tidak suka dengan pohon jenis ini. Atau bisa jadi, karena dianggap kepentingannya tidak vital, akhirnya dibabat untuk berbagai kepentingan lain.

Untuk kondisi yang dibabat ini, contohnya ada beberapa. Salah satu, rumpun bambu yang di samping meunasah kami dibabat demi kepentingan lapangan sepak bola. Sekarang ini, lapangan juga tidak dimanfaatkan.

Lapangan yang dekat dengan sungai, yang hampir tiap hujan besar selalu airnya membanjiri kampung, membuat lapangan jadi becek. Orang bisa merasakan lapangan yang tidak lagi penyaring.

Sungai yang meluap, segera membanjiri kampung. Inisiatif yang belakangan muncul, membuat tanggul, dengan biaya yang tentu saja tidak sedikit.

Kepentingan yang lebih personal, pada kesejukan yang dirasakan. Saya sering melihat di bawah rumpun bambu banyak dibuat tempat duduk, bahkan tempat orang istirahat siang. Banyak orang terlelap begitu rupa, tidak peduli bahkan kawasan itu lalu lalang manusia. Orang merasakan sesuatu yang luar biasa.

Kesejukan ini disebabkan kondisi rumpun tersebut. Pohon ini memang berumpun, tidak hidup sendiri. Barangkali karena ukurannya yang tinggi, jika tidak berumpun, akan akan mudah patah atau roboh. Dengan berumpun membuat semuanya bisa tegak walau dengan kondisi angin yang kencang.

Kesejukan ini yang memberi banyak efek. Bukankah orang-orang bisa tidur dengan pulas justru tidak di kasur yang empuk dan mahal? Tidak sedikit orang yang memiliki segalanya, jenis kasur standar Eropa, dengan harga yang tidak bisa dijangkau semua orang, justru tidak bisa tidur dengan tenang di atasnya? Kita bisa melihat bagaimana orang tidur dengan pulas di lokasi-lokasi bawah rumpun bambu itu.

Pada tempat yang tampak sudah licin mengkilap. Angin sepoi yang terhidang, membuat orang-orang bisa pulas di atasnya. Tidak semua lokasi ada angin semacam ini. Tidak semua orang bisa menikmati puncak pulas semacam ini.

Kondisi semacam ini, sepertinya memang sudah dijangkar oleh orang tua kita. Ketika mereka memilih jenis pohon tertentu di tempat tertentu, kemungkinan mereka sudah paham maksudnya.

Menanam sesuatu bukan karena dasar suka-suka. Apabila kita masih mendapatkan ada kampung yang kondisinya masih tertata, kita bisa menyaksikan bagaimana jenis pohon-pohon itu tertata apik. Untuk memahami bagaimana mereka maksudnya, sudah seharusnya kita belajar lebih banyak pada mereka.[]