Tumpok

Berkacalah pada pencari rusa, petani cabai, atau nelayan yang baru pulang dengan tetesan keringat.

Tumpok
ilustrasi I Photo:dafone-note.blogspot.co.id

Berkacalah pada pencari rusa, petani cabai, atau nelayan yang baru pulang dengan tetesan keringat.

CARA membagi tumpok atau pembagian hasil pada masing-masing even, coraknya hampir sama. Bagi Anda yang pernah berpapasan dengan rombongan pencari rusa, terutama di jalur pulang mereka, berkemungkinan Anda akan turut merasakan bagaimana rasa daging rusa itu. Anda akan diberikan, walau sedikit. Mereka tidak memperhitungkan harga keringat yang telah dikeluarkan. Keluar malam menghadapi dinginnya malam.

Mungkin juga Anda pernah berdiri di pinggir perahu nelayan yang baru pulang. Lumrahnya Anda juga akan mendapatkan walau seekor ikan kecil. Anda berdiri atau bertetangga dengan pemilik kebun cabai yang sedang panen; atau petani mentimun yang sedang memetik buahnya. Mereka akan membagi alakadar, katanya hanya untuk sekedar mencicipi.

Idealnya, rezeki itu harus dibagi. Seberapa pun usaha keras para petani atau nelayan, atau pencari rusa, ada sebagian yang diyakini sebagai rezeki orang lain. Orang-orang yang yakin semacam itu, jarang merasakan ada yang berkekurangan. Pengalaman ini tidak bisa dikalkulasi dengan rumus matematika. Hasil panen tidak habis walau sudah dibagi sebagian. Justru banyak orang merasakan bertambahnya ketenangan batin. Hasil kalinya berkemungkinan positif. Tidak terkurangi.

Datanglah ke kampung-kampung ketika padi sedang panen. Orang-orang yang membantu pemilik padi, akan mendapatkan bagiannya. Orang-orang yang membagi secara ikhlas, tidak pernah merasa berkurang hartanya. Padi yang disimpan untuk makan dalam jangka waktu tertentu, nyatanya tidak terkurangi.

Pembagian tumpok semacam ini berimplikasi positif pada masing-masing yang memberinya secara ikhlas. Sebaliknya, orang-orang yang selalu merasa berkekurangan, dalam setiap kesempatan hanya akan mengungkapkan kekurangannya saja. Pembawaan selalu gelisah dan mengira harta itu sebagai satu-satunya yang harus dikuasai sepenuhnya.

Orang-orang yang ikhlas membagi tumpok, tampak pada kebahagiaannya ketika membagi. Orang-orang begini selalu mengambilnya tumpok bagiannya selalu terakhir, setelah dipastikan semua orang lain sudah mendapatkannya. Termasuk isi tumpok. Tidak diambil dulu untuk bagiannya sebelum dipastikan semua orang lain yang dibagi sudah mendapatkan bagian.

Berbeda dengan orang-orang yang lebih peduli terhadap tumpok bagiannya dan pimpinannya. Orang yang membagi makanan, sudah memisahkan lebih dulu bagian terbesar untuk sejumlah tumpok di sekelilingnya. Selebihnya baru dibagi rata kepada semua yang hadir, setelah dipastikan orang-orang terdekatnya, atau orang-orang yang disanjungnya sudah mendapatkan bagian yang melebihi dari bagian orang lain.

Begitulah kondisi saat tumpok dibagi. Orang yang ikhlas merasakan beban berat luar biasa saat ditunjuk sebagai pembagi tumpok. Sebaliknya, mereka yang mengejar-ngejar bagian, justru pakai tim suksesi agar ditunjuk sebagai pembagi tumpok. Tidak mengherankan, setelah ditunjuk, ia berpikir sekerasnya agar sejumlah tumpok didapat sebagai bagian balas jasa. Bahkan untuk mendapatkan tumpok besar ini, urat malu terasa sudah putus dari sarafnya.

Pilihan ada pada masing-masing kita, apakah ingin mendapatkan tumpok secara normal, atau mengejar tumpok karena takut hidup berkekurangan. Kalau pun memilih orang yang mengejar tumpok, seyogianya tidak usah berkomentar panjang lebar, seolah-olah bukan penerima tumpok yang ilegal. Takutlah jika justru melegalkan secara terang-terangan apa yang dilakukan.

Berkacalah pada pencari rusa, petani cabai, atau nelayan yang baru pulang dengan tetesan keringat.[]