Pada dasarnya, ulok itu timbul karena kepentingan ingin membuat orang lain terpingkal.

Ulok
Ilustrasi

Pada dasarnya, ulok itu timbul karena kepentingan ingin membuat orang lain terpingkal.

ASAL MUASAL kasus sesungguhnya sederhana. Seorang pejabat publik, namanya disebut berkali-kali dalam kasus korupsi, lalu melakukan perlawanan. Orang yang berkelas mampu melawan, dengan kekuatan politik dan uang yang dimiliki. Berbeda dengan orang kecil, yang hanya mampu menerima apa adanya.

Perlakuan juga berbeda. Ketika berada pada titik penegakan hukum, orang-orang besar sangat sulit untuk dijangkau. Dugaan yang dialamatkan kepada orang-orang besar, sudah diverifikasi berkali-kali. Seperti menghitung kali dan bagi, semua sudah diperkirakan apa yang bakal dihadapi oleh mereka yang menegakkan hukum. Tentu, untuk yang kecil, tidak berlaku serumit itu. Kapan saja bisa digeledah, bahkan dibawa di malam buta pun, untuk orang kecil sangat mudah dilakukan.

Ketika tekanan publik meluas, ternyata yang berlaku seperti tidak ada pilihan. Lalu pejabat publik mulai disasar. Sampai di sini, pejabat publik menggunakan rumus jitu, pura-pura sakit. Satu lantai rumah sakit disewanya. Lalu dimuka diberi selang saling-silang. Ada publik yang memperolok-olok, lalu ditangkap karena dilapor penasihat hukumnya.

Kejadian inilah dasarnya. Lalu pada fase sasar kedua, tampak seperti rumus lain. Kendaraan pejabat penting menabrak tiang listrik, yang sopirnya ternyata bekerja di televisi. Ia harus masuk rumah sakit lagi, dengan berbagai kesalahan medis yang tampak pada gambar, digugat publik kanan dan kiri. Begitulah. Lalu untuk menghindari ada yang dipermasalahkan, olok-olok dilakukan secara massif.

Inilah yang saya namakan dengan mainan baru warga bangsa akhir-akhir ini, memperolok-olok peristiwa yang sebenarnya terjadi. Mainan ini seperti pilihan terakhir, saat berbagai protes dan komentar dianggap melampaui batas penyampaian pendapat. Sengaja saya sebut mainan, karena ia dilakukan sambung-menyambung dan dilakukan secara massif oleh banyak orang.

Mainan ini, jujur saja, seperti berita duka. Bagaimana sebuah ketidakjujuran diterima dengan memperolok-olok. Pada taraf tertentu, bisa jadi apa yang sesungguhnya peristiwa, semacam legenda yang dipertanyakan kepastiannya. Tetapi begitulah. Orang-orang sepertinya ingin menyampaikan kegelisahannya dalam bentuk lain. Sebuah bentuk yang dalam kehidupan lazim dilakukan, namun tidak semassif akhir-akhir ini.

Mencampuradukkan antara kisah dan legenda, seyogianya menjadi catatan mereka yang menegakkan hukum. Jangan mengabaikan kegalauan dan kegelisahan publik. Ketika mereka membuat sesuatu yang serius sebagai ulok-ulok, maka harus muncul renungan, barangkali ada yang salah dengan kita.

Pada dasarnya, ulok itu timbul karena kepentingan ingin membuat orang lain terpingkal, namun ada catatan, bahwa di dalamnya ada pesan yang menggigit. Pesan sesuatu ingin disampaikan dengan lucu-lucuan, namun dengan pesan di dalamnya, sasaran akan merasa tertampar. Pertanyaan penting, apakah tujuan ini tercapai dengan gerakan ulok-ulok ini?

Jangan sampai terlihat seperti adanya pesta ulok nasional, dengan tujuan yang sudah dibayangkan, sedang pada kenyataan, apa yang diharapkan tidak terjadi. Kondisi inilah yang harus diperhitungkan. Selebihnya silakan tafsir sendiri.[]