Uni Afrika dan PBB Tuntut Trump Minta Maaf

"Trump kemudian mengatakan hal-hal yang dipenuhi kebencian, keji, dan rasial. 'Sampah' adalah kata yang digunakan presiden, tidak hanya sekali, tapi juga berulang kali"

Uni Afrika dan PBB Tuntut Trump Minta Maaf

Uni Afrika dan PBB Tuntut Trump Minta Maaf

"Trump kemudian mengatakan hal-hal yang dipenuhi kebencian, keji, dan rasial. 'Sampah' adalah kata yang digunakan presiden, tidak hanya sekali, tapi juga berulang kali"

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menjadi pembicaraan khalayak dunia setelah dilaporkan menyebut negara-negara Afrika sebagai 'negara-negara sampah'.

Trump dilaporkan meminta alasan penerimaan imigran dari 'negara-negara sampah' setelah anggota parlemen mengangkat isu perlindungan bagi imigran dari negara-negara Afrika, Haiti, dan El Salvador.

"Bahasa yang digunakan saya di pertemuan DACA (Deferred Action for Childhood Arrivals) memang keras, tapi itu bukan bahasa yang digunakan," bantah Trump. Meski dia sudah mengonfirmasi lewat Twitter bahwa bukan bahasa itu yang digunakan, kemarahan rakyat Afrika tidak terbendung lagi. Mereka menyebut Trump sebagai presiden rasial.

Uni Afrika yang beranggotakan 55 negara mengecam ucapan tersebut pada Jumat (12/1), diiringi dengan dukungan duta besar semua negara Afrika di PBB. Mereka menuntut pernyataan tersebut dicabut dan permintaan maaf dari Trump.

Para Duta Besar Kelompok Afrika untuk PBB mengungkapkan mereka sangat terkejut dan dengan keras mengecam ucapan keterlaluan, rasial, dan xenofobia dari Trump.

"Komentar itu jelas rasial. Ini bahkan lebih menyakitkan karena dalam sejarah banyaknya orang Afrika tiba di AS sebagai budak dan sangat mengejutkan karena AS tetap jadi contoh positif besar seperti migrasi menciptakan bangsa," kata juru bicara Ketua AU Moussa Faki, Ebba Kalondo.

Dia menekankan rakyat AS jauh lebih kuat daripada hanya satu orang tersebut.

"Anda tidak dapat mengabaikan seluruh negara dan benua sebagai 'sampah' yang memiliki populasi tidak berkulit putih sehingga tidak diterima," kata juru bicara Kantor Hak Asasi Manusia PBB Rupert Colville.

Sementara itu, Botswana memanggil duta besar AS di negaranya untuk memastikan adanya anggapan 'sampah' untuk mereka.

'Tolong jangan membingungkan pemimpin #shithole yang orang Afrika pilih. Tanah air kami ialah benua yang paling diberkati, tapi dieksploitasi kaum imperialis bekerja sama dengan pemimpin sesat dari generasi ke generasi', tulis aktivis Kenya Boniface Mwangi di Twitter.

Kendati Trump menyangkal, Senator Demokrat Dick Durbin, yang hadir dalam pertemuan tersebut, secara terbuka mengatakan Trump berulang kali menggunakan bahasa 'jahat dan rasial'.

"Trump kemudian mengatakan hal-hal yang dipenuhi kebencian, keji, dan rasial. 'Sampah' adalah kata yang digunakan presiden, tidak hanya sekali, tapi juga berulang kali," jelas Durbin.

Demokrat dan Republik kecewa

Bahasa Trump juga memicu rentetan kritik dari Demokrat dan Republik.

Hillary Clinton, pesaingnya dulu, mengungkapkan pandangan bodoh Trump dan rasialnya pada siapa pun yang tidak terlihat seperti dia.

Ketua DPR Paul Ryan dari Partai Republik sangat menyayangkan bahasa Trump yang tidak membantu itu.

Mia Love, anggota Kongres Haiti, menyebut kata-kata itu 'tidak baik' dan 'memecah-belah'.

Sementara itu, Tim Scott dari Carolina Selatan, satu-satunya Senator Republik kulit hitam, menyebut Trump benar-benar menggunakan kata-kata tersebut. Itu akan 'mengecewakan'. [] MI