Warung Kopi dan Upaya Amal untuk Petani

Berawal dari berjualan kopi amal untuk menggalang dana bagi korban gempa Pidie Jaya di UIN Ar-Raniry, Zikra Juniawan (20) terinspirasi mengelola empat hektar lahan kopi arabika milik orang tuanya untuk membantu para petani.

Warung Kopi dan Upaya Amal untuk Petani
Zikra Juniawan, Owner Warung Kopi Arabika Zet.t yang berlokasi di Jalan Lingkar Kampus, Darussalam Banda Aceh. (Foto: Dhesy Badrina)

Warung Kopi dan Upaya Amal untuk Petani

Berawal dari berjualan kopi amal untuk menggalang dana bagi korban gempa Pidie Jaya di UIN Ar-Raniry, Zikra Juniawan (20) terinspirasi mengelola empat hektar lahan kopi arabika milik orang tuanya untuk membantu para petani.

SIANG minggu ketiga September, Zikra Juniawan terlihat rapi dengan kemeja kotak-kotak dan tas sandang hitamnya. Semula mahasiswa semester VII Jurusan Bahasa Arab UIN Ar-Raniry itu ingin masuk kuliah. Namun, dosen yang berhalangan hadir membuat bebujang Gayo tersebut harus mengurungkan niatnya .

Disela kesibukannya sebagai mahasiswa dan Owner warung kopi Zet.r, Zikra menyempatkan diri bercerita kepada Acehnews.co mengenai bagaimana ia merintis warung kopi yang baru beroperasi pada awal September ini.

“Saya lahir di tanah penghasil kopi, hidup dan besar dari hasil buah kopi, dan berasal dari keluarga petani kopi. Tak tahu diri jika saya tak mau belajar tentang kopi dan coba mempromosikan potensi hasil alam kampung halaman,” ucap lelaki kelahiran Desa Cikal Baru, Kabupaten Bener Meriah.

Meski anak petani kopi, namun berbisnis kopi tidak pernah terpikir oleh Zikra sebelumnya, sebab ia sekolah di pesantren yang jauh dari aktivitas petani kopi. Lulus dari Pesantren Az-Zahro Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen, orang tua meminta Zikra melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. UIN Ar-Raniry pun menjadi pilihan.

“Kehidupan di pesantren yang teratur membuat saya banyak kegiatan. Di bangku kuliah ternyata berbeda. Waktu luang lebih banyak, dan itu nyaris membuat bosan. Beruntung saya punya paman di Banda Aceh yang hobi berbisnis,” tutur lelaki yang hobi travelling itu.

Awal 2014, Zikra yang anti dengan kata dagang, akhirnya berkecimpung langsung membantu pamannya berjualan kopi Arabika di seputaran Unsyiah menggunakan gerobak.

Seiring waktu dan kerap bersentuhan dengan kopi, mau tidak mau ia pun belajar tentang kopi hingga cara menyeduh kopi yang baik untuk menghasilkan cita rasa yang unik.

“Yang saya dalami waktu itu, ilmu tentang kopinya, bukan bisnisnya. Namun ternyata dua hal ini saling berkaitan. Dengan belajar kopi dan bisnis, saya bisa merubah mindset orang terhadap petani kopi yang dianggap bodoh, karena masih menjual kopi dalam bentuk cerry,” ungkap anak dari pasangan Juandi dan Isnain itu.

Genap tiga tahun belajar kopi sekaligus mendalami profesi barista, ia memutuskan membuka kedai kopi sendiri dengan bermodalkan empat hektar kebun milik orang tuannya dan satu mesin espresso. Bersama temannya, Syah Reza. Agustus lalu mereka mulai mendesain konsep warung kopi yang nyaman untuk berbagai kalangan.

Seolah ingin memperlihatkan kreatifitas anak muda, semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk sebuah warung kopi, seperti meja, kursi dan display ruko satu pintu itu, dikerjakan bersama tim yang tergabung dalam bisnis warung kopi.

“Semua meja dan kursi kami buat sendiri. Tinggal beli bahan dan alat saja. Selebihnya tinggal kami olah sendiri termasuk pasang listrik,” katanya sambil tersenyum.

Tiga tahun join bersama sang paman yang sudah memiliki warung kopi sendiri di seputaran Lamnyong, membuatnya terinspirasi untuk membuka warung kopi sendiri.

Ia teringat satu petuah pamannya soal bisnis, “Jual apa yang bisa kamu buat, atau buatlah apa yang bisa kamu jual, sehingga kita lebih kreatif dan produktif,” kenang Zikra dengan penuh semangat.

Pernah suatu kali saat musibah gempa Pidie Jaya, dia ingin menggalang dana. Muncullah ide Kopi Amal untuk menambah nilai pada bisnis kopi yang saat itu masih milik pamannya. Menurutnya,  bisnis bukan saja bicara keuntungan, tapi juga mengedukasi pasar untuk mau peduli dan berbagi terhadap sesama.

“Idenya sederhana. Mereka beli kopi, dan silahkan bayar semaunya untuk disumbangkan kepada korban gempa. Kami ingin gambarkan saat itu, kopi Arabika  bukan hanya mahal dan enak, tapi kita juga bisa beramal lewat ngopi,” katanya.

Hadirnya warung kopi Zet.r milik Zikra dan Reza sebenarnya tidak hanya untuk membantu petani kopi, tapi juga untuk merubah pandangan masyarakat soal warung kopi sebagai tempat untuk buang-buang waktu dan bercerita tiada habisnya.

“Sekarang persepsi orang terhadap warung kopi tidak baik, hanya untuk orang download, main game, duduk sampai sore dan tak produktif. Zet.r hadir agar orang-orang yang selama ini menjadikan warkop sebagai trend, jadi lebih bermanfaat,” jelas Zikra.

Berada di lingkar kampus UIN Ar-Raniry yang didominasi mahasiswa dan akademisi, menjadikan Zet.r merasa perlu menjadi wadah bagi yang ingin belajar, berdiskusi soal bisnis kopi, dan ingin tahu tentang kopi.

Dalam menyajikan kopi, kepada para pembeli pun mereka kerap mencoba menanyakan alasan pembeli memilih menu minuman yang diinginkan. Sekiranya para pembeli ingin mencoba menu baru, maka para waiters dengan senang hati menjelaskan sedikit tentang minuman itu.

Zikra berharap, hadirnya gerai kopi Zet.r di Kopelma Darussalam dapat mengedukasi para mahasiswa, akademisi dan masyarakat jika ngopi bukan sekedar trend. Berpindah selera dari kopi robusta ke arabika, dari kopi saring ke mesin, tapi lebih kepada penghargaan bagi petani kopi.

“Meskipun konsep Zet.r belum begitu sempurna, tapi kami ingin memberikan yang terbaik serta kenyamanan kepada semua kalangan termasuk perempuan. Sebagai tolak ukur meningkatkan potensi yang ada, kemudian bisa belajar sesuatu dari pengalaman,” jelas Zikra.

Selain 15 meja yang disedakan untuk para pembeli di lantai bawah, Zet.r juga menyediakan meeting room di lantai atas. Bisa digunakan untuk kelas belajar, bermusik, atau sekedar rapat dengan memesan minuman tanpa harus membayar lebih.

Seorang pelanggan tetap sekaligus teman satu organisasi Zikra di jurusan Bahasa Arab, Mohd. Jaisar Raju, mengatakan ada satu keuntungan ketika Zikra yang tergabung dalam organisasi kampus punya aksi nyata seperti membuka warung kopi.

“Lebih mudah bercerita ke adik-adik letting soal bisnis, sebab sudah ada contoh realnya. Kami biasa menyemangati mereka bahwa Jurusan Bahasa Arab juga bisa jadi pengusaha,” kata Raju sambil tertawa.

Ia mengaku salut akan kegigihan Zikra yang sejak semester pertama sudah melawan kebosanannya dengan berjualan kopi.  Menurutnya, manajemen waktu Zikra sangat bagus, di mana kuliah tetap berjalan dan bisnispun kian lancar.

“Di era globalisasi, sudah supatutnya mahasiswa yang dikenal sebagai pencinta kopi dan wifi bisa lebih bermanfaat untuk masyarakat. Seperti halnya Zikra yang buka warung kopi guna mengembangkan potensi yang ada di daerahnya dan membantu para petani,” pungkas Raju. []