Wasiat Panglima AGAM kepada Atjeh

Perjuangan ini tidak boleh berhenti

Wasiat Panglima AGAM kepada Atjeh
Buku tahlilan Panglima AGAM Teungku Abdullah Syafi'i. [Koleksi Cut Asmaul Husna]

Wasiat Panglima AGAM kepada Atjeh

Perjuangan ini tidak boleh berhenti

Oleh: Cut Asmaul Husna [Dosen FISIP Universitas Teuku Umar/Inisiator FAMe Charter Pidie dan Pidie Jaya]

Menjelang malam 22 Januari 2018,  Murizal Hamzah penulis buku Hasan Tiro di grup Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Pidie dan Pidie Jaya mengingatkan bahwa pada 22 Januari 2002 adalah tanggal Teungku Abdullah Syafi’i  Panglima Prang Aceh Sumatera National Liberation Front (ASNLF) atau yang sangat dikenal dengan sebutan Panglima AGAM Aceh berpulang ke Rahmatullah

Penulis bersama Cut Nurasyikin  dan lain-lain bertemu Teungku Lah sapaan akrab Abdullah Syafi’i  di meunasah salah satu gampong di Kecamatan Bandar Baru, Pidie.  Dalam  pertemuan  itu,  Panglima AGAM menyampaikan wasiatnya kepada kami yang diikuti oleh puluhan warga dan mahasiswa serta dikawal ketat oleh puluhan pengawal bersenjata lengkap AK-47 dan M-16.

Berikut ini petikan wasiat tersebut “Adik-adik yang mahasiswa  yang agam atauwa inong (laki-laki dan Perempuan) teruslah berjuang dengan caranya untuk Atjeh (sebutan Aceh oleh Panglima), perjuangan untuk kemerdekaan dan kedaulatan Atjeh tidak harus semuanya dengan senjata seperti kami di lapangan.  Senjata bagi kami alat untuk mempertahankan diri, kita harus bagi tugas, kami di lapangan mempertahankan diri, bergerilya untuk Atjeh, dan harus ada yang berjuang dengan pena atau pulpen dan kampanye keluar negeri tentang Atjeh.  Semua kita harus sama dan seidelogi untuk memakmurkan, mensejahterakan dan memerdekakan Atjeh untuk Atjeh dan generasi yang akan datang. “

Pada pertemuan itu, Tengku menambahkan yang membuat isak tangis kami.

“Mungkin umur Ulon tuan dan Wali Negara Atjeh (saya dan wali Nanggroe) tidak lama lagi, tapi perjuangan ini tidak boleh berhenti sampai Atjeh dapat berdiri di kaki sendiri. Saya yakin jika kita bersatu (AGAM dan Aktivis) bersau dan membagi tugas ini dengan baik, maka perjuangan kita akan berhasil dan masyarakat Atjeh yang telah berkorban tidak sia-sia” . Demikian wasiat Panglima AGAM yang penulis ingat sekali selama 16 tahun.

Penulis menulis catatan ini di kertas, tetapi ketika dapat kabar bahwa ruko tempat penulis bersama orangtua tinggal akan disweeping oleh TNI, karena ada dapat kabar akan ada penyerangan ke Pos Polisi di Ulee Kareng, semua catatan ditanam oleh Nyak (Ibu) di parit belakang ruko termasuk dokumen penting lainnya yang dititipkan perunding GAM pada masa JSC. Untuk melawan lupa akan wasiat, berikut wasiat lain yang penulis temukan dalam dokumen lama, wasiat yang dibukukan pada 44 Hari Pejuang Besar Aceh Almarhum Teungku Abdullah Syafi’i.

Waktu sudah berlalu,  penulis masih penasaran, wasiat Panglima AGAM ini siapa yang harus terima, kami kah yang mendengar waktu itu? Cut Nurasyikin  yang meninggalkan dunia pada tsunami 26 Desember 2004 di Penjara Lhoknga, semoga amal ibadah dan perjuangan untuk Aceh menempatkan Cukak Cut Nurasyikin di syurga.  Masih adakah teman-teman yang lain yang ikut hadir ? Penulis lupa karena banyak rekan-rekan Aktivis yang ikut waktu itu.

Tahun 2018, Masyarakat Aceh sudah berada di pintu perdamaian, sudah merasakan nafas kemerdekaan dari konflik yang berkepanjangan di Aceh, sudah tidak ada beda perlakuan antara GAM dengan bukan, yang berbaju loreng, berbaju polisi, berbaju sipil, yang menggunakan kupiah hitam bahkan merahpun sudah minum kopi dalam satu meja yang sama. Hari-hari tidak lagi mendengar letusan senjata, kecuali saat lebaran tiba, anak-anak Aceh masih terhipnotis masa lalu, senang mainan senjata dan tembak-tembakan sesamanya.

Kondisi Aceh seperti inikah yang diinginkan oleh Panglima AGAM dan Wali Nanggroe Hasan Tiro? Penulis menyampaikan bahwa “ kemerdekaan” yang dimaksud Tengku Lah adalah bukan hanya sebatas kedamaian, tetapi Aceh harus mampu mensejahterakan, memakmurkan dan masyarakatnya memiliki kehidupan yang lebih baik, bebas dari kemiskinan, kemelaratan dan penderitaan.

Aceh dengan alokasi anggaran yang jauh lebih besar daripada masa konflik, saat perdamaian ini seharusnya memiliki kesempatan untuk memerdekakan masyarakatnya dari kemiskinan, sehingga masyarakatnya mampu berdiri di kaki sendiri dan dengan kaki sendiri dan tidak perlu perjuangan melalui senjata lagi. Stop kekerasan, stop konflik!

Di buku Hasan Tiro Jalan Panjang Menuju Damai Aceh yang ditulis Murizah Hamzah (2014) hal 103,  Hasan Tiro menulis pada risalah Atjeh Bak Mata Donya yang terbit tahun 1968, mengajukan pertanyaan kepada pemudi dan pemuda agar dapat merenung masalah yang membentang di depan mata. 

Penulis kutip yang sudah diterjemahkan “ Bagaimana kita Bangsa Aceh melihat diri sendiri? Inilah satu pertanyaan yang sangat besar bagi kita Bangsa Aceh zaman ini, Sebab jawaban kita atas pertanyaan in tergantung nasib kita semua pada zaman ini, nasib keturunan kita akan datang dan nasib Aceh ini di permukaan bumi ini).

Wasiat Panglima Agam dan pertanyaan Hasan Tiro harus kita yang jawab, akankah Aceh terus dalam daftar provinsi miskin di Indonesia, sementara Aceh juga masuk provinsi terkaya di Indonesia?Kita generasi saat ini yang menentukan bagaimana Aceh untuk masa depan yang memakmurkan, mensejahterakan, memerdekaan dan mendaulatkan Aceh sebagai Negeri yang Darussalam.