YLI Latih Kesadaran Petani Menjaga Lingkungan Lut Tawar

“Training ini diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada petani sekaligus masyarakat untuk mengerti kondisi lingkungan Lut Tawar yang saat ini telah tercemar airnya"

YLI Latih Kesadaran Petani Menjaga Lingkungan Lut Tawar
Foto: Desi Badrina

YLI Latih Kesadaran Petani Menjaga Lingkungan Lut Tawar

“Training ini diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada petani sekaligus masyarakat untuk mengerti kondisi lingkungan Lut Tawar yang saat ini telah tercemar airnya"

Takengon - YLI Bekerjasama dengan ICCTF (Indonesia Climate Change Trust Fund) – Bappenas melakukan training kesadaran lingkungan kepada sekelompok petani penerima manfaat program dari Desa Bener Pepanyi Kecamatan Permata dan Desa Nosar Baru Kecamatan Bener Kelipah. Acara tersebut berlangsung di Alu Tambun, Takengon, 3-4 Mei 2018.

Leader project ICCTF-YLI, Tommy Mulyadi mengatakan kegiatan ini merupakan rangkaian training untuk peningkatan kapasitas petani program YLI-ICCTF yang d ikuti oleh 20 petani perwakilan kelompok. Narasumber yang dihadirkan yaitu Dr. Ir. Ashabul Anhar, M.Sc Arif Habibal Umam, S.Si., M.Sc dari Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala.

Materi yang disampaikan pada training ini difokuskan pada kesadaran masyarakat akan kondisi lingkungan yang terjadi pada saat ini, khususnya di sekitar pinggiran Lut Tawar, Takengon. Selain materi secara teoritis, dilakukan juga praktek lapangan,” terang Tommy. 

Ia menambahkan, para peserta training yang dibagi menjadi 4 timdiberi tugas untuk melakukan indentifikasi kerusakan lingkungan di sekitar Lut Tawar serta memberikan solusi yang harus dilakukan untuk kemudian didiskusikan bersama-sama selama trining berlangsung.

“Training ini diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada petani sekaligus masyarakat untuk mengerti kondisi lingkungan Lut Tawar yang saat ini telah tercemar airnya,” ujar Tommy.

Dua hal yang disebut Tommy menyebabkan tercemarnya Lut Tawar, yaitu pembudidayaan ikan keramba dan sampah yang ada disekitar Lut Tawar. 

Selain itu, peserta training juga mendapatkan penjelasan bagaimana efek dari kondisi saat ini bila pencemaran lingkungan sekitar Lut Tawar terus berlanjut.Penebangan pohon di sekitar Lut Tawar juga akan berefek pada pengurangan debit air Lut tawar yang semakin berkurang saat ini.

Seorang peserta trining, Khairunnas menyebutkan, informasi yang didapat selama pelatihan sangat menarik. Ia sendiri mengaku tahu, bahwa Lut Tawar, memang telah tercemar. Hanya saja, tak begitu faham penyebab dan dampak lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran lingkungan ini.

“Ini ilmu baru bagi saya. Tentang kesadaran lingkungan, dan dampak-dampak yang ditimbulkan dari pencemaran lingkungan. Kami banyak menemukan penumpukan sampah di sekitar danau, belum lagi pembakaran lahan dan penebangan pohon,” kata petani yang berusia 30 tahun itu.

Ia juga baru tahu, bahwa pendangkalan danau juga disebabkan oleh pendemaran lingkungan dan penumpukan sampah. Belum lagi, kurangnya debit air yang menyebabkan kedangkalan disebabkan oleh gundulnya pohon yang mengelilingi Danau Lut Tawar.

“Saya tahu, danau Lut Tawar itu sudah tercemar, hanya saja saat itu belum ada kesadaran lingkungan. Dan dengan trining-trining seperti ini kesadaran kami lebih meningkat, dan kami sadar, betapa menjaga lingkungan ini penting.  Termasuk penyakit yang mulai timbul akibat pencemaran lingkungan,” ungakap Khairunnas.

Pengalaman Aiman lain lagi. Ia termasuk pencinta burung. Mendapati jarangnya suara burung berkicau di sekitar Lut Tawar, selama masa trining, ia pun heran. Baru ia sadar bahwa dulu, mudah sekali melihat burung terbang di sekitaran danau, tapi kini, jangankan wujud makhluknya, suaranya saja tak terdengar.

“Kalau dulu banyak suara burung bisa kita dengar di seputaran danau. Kalau sekarang, seperti kemarin, dari pagi sampai sore pun kami di sini, hanya dua kali saja terdengar suara burung. Itu pun sudah jauh di atas suaranya,” sebut pria 32 tahun itu.

Dulu, katanya, sering ia melihat burung beterbangan rendah ke Lut Tawar lalu balik lagi ke atas. Ia baru sadar, bahwa penebangan pohon di sekitar Lut Tawar memengaruhi jumlah burung di sana. Kurangnya toilet umum dan tong sampah juga menjadi perhatian Aiman. Ia berharap, pemerintah mulai menganggap serius tentang lingkungan sekitar Lut Tawar yang menjadi warisan alam Dataran Tinggi Gayo.[]